Pengendalian Banjir Kota Yokohama Jepang

Pengendalian Banjir Kota Yokohama Jepang

Banjir menjadi salah satu masalah yang kerap terjadi di kota-kota – ketika resapan air di kota semakin rendah. Perluasan area terbangun akibat urbanisasi menjadi penyebab berkurangnya fungsi lahan sebagai daerah resapan, sehingga mempercepat limpasan air hujan. Sama halnya dengan kota-kota besar di Jepang, seperti Kota Tokyo dan Kota Yokohama yang dilewati oleh Sungai Tsurumi sepanjang 42,5 kilometer.

 

Arus urbanisasi di sepanjang aliran Sungai Tsurumi mulai meningkat pada tahun 1950an. Saat ini, Daerah Aliran Sungai (DAS) Tsurumi didiami penduduk dengan kepadatan 8.500 jiwa per kilometer persegi. Secara historis, Sungai Tsurumi dikenal sebagai sungai yang rawan banjir karena bentuknya yang berkelok-kelok dan gradiennya yang rendah. Banjir terparah tercatat pada tahun 1958, ketika Jepang dilanda Topan Ida yang kembali terjadi pada tahun 1966, 1976, dan 1982.

 

DAS Tsurumi melintasi beberapa kewenangan administratif yang meliputi Pemerintah Pusat (bagian hilir), Metropolitan Tokyo (bagian hulu), dan Kota Yokohama. Di Jepang, apabila sungai melintasi lebih dari dua prefektur, maka rencana pengelolaan sungai ditangani oleh Pemerintah Pusat. Inisiatif pengelolaan banjir terpadu (integrated flood management) telah dimulai sejak tahun 1980an yang meliputi pembangunan bendungan, pendalaman aliran sungai, peningkatan kualitas sungai, pembangunan kolam retensi atau embung, serta pengembangan rainwater trunk system. Pemerintah Pusat juga menetapkan kebijakan bahwa setiap kota harus membangun kolam retensi serta mewajibkan masyarakat untuk menyediakan kolam retensi apabila ingin mengkonversi lahan pertaniannya menjadi lahan terbangun.

 

Salah satu strategi pengendalian banjir yang dilakukan adalah pembangunan kolam retensi multiguna di Kota Yokohama, tepatnya di bawah Stadion Internasional Yokohama. Stadion Internasional Yokohama atau yang dikenal juga dengan Stadion Nissan dibangun di atas pilar-pilar, sehingga bagian bawah stadion dapat digunakan untuk menampung air. Ketika volume air Sungai Tsurumi sudah kembali normal, air yang ditampung akan dialirkan kembali menuju sungai. Selain itu, jalan utama juga dibangun dengan konsep jalan layang, sehingga lebih mudah beradaptasi saat terjadi banjir di area sekitar.

 

Dengan sifatnya yang multiguna, kolam retensi ini juga berfungsi sebagai area konservasi alam yang melindungi flora dan fauna serta penyediaan Ruang Terbuka Hijau saat tidak terjadi banjir.

 

Sumber: Laporan Study Visit “Sustainable Cities Development: Lesson from Japan”, Kementerian PPN/Bappenas (2023)