Menara Bappenas
Menara Bappenas
Pengembangan kota berkelanjutan memerlukan keseimbangan antara elemen seperti aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan guna memastikan pemanfaatan sumber daya saat ini dapat dioptimalkan tanpa mengorbankan kebutuhan generasi mendatang. Pendekatan ini menuntut perencanaan kota yang cermat dengan mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi, inklusivitas sosial, dan pelestarian lingkungan untuk menciptakan sistem perkotaan yang tangguh dan adaptif. Melalui kebijakan yang terkelola dengan baik, kota tidak hanya dapat mendorong kemajuan ekonomi tetapi juga menyediakan lingkungan hidup yang aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi seluruh penduduknya.
Transportasi memainkan peran krusial dalam mewujudkan kota berkelanjutan, karena masyarakat perlu berpindah tempat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang tidak bisa dipenuhi di satu tempat yang sama. Sistem transportasi yang baik akan mendukung kenyamanan masyarakat berpindah tempat (aksesibilitas), mengurangi kemacetan, dan menekan emisi karbon, sehingga integrasi penggunaan lahan dan sistem transportasi memungkinkan mobilitas yang lebih ramah lingkungan dan mendorong pola pembangunan kota yang lebih terpadu. Contohnya, pengembangan jaringan transportasi massal dengan pendekatan pembangunan berbasis transit (TOD) di berbagai kota besar telah membantu mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, sehingga menekan polusi udara dan konsumsi bahan bakar fosil. Transportasi umum yang terjangkau dan berkualitas juga berperan penting dalam menciptakan kesetaraan sosial dengan menyediakan akses mobilitas bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan. Selain itu, penerapan kendaraan listrik dan infrastruktur pendukungnya menjadi salah satu langkah strategis dalam meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi jejak karbon sektor transportasi yang saat ini banyak disumbang oleh emisi transportasi perkotaan.
Beberapa negara telah melakukan praktik baik dalam pengembangan transportasi berkelanjutan. Belanda, misalnya, menjadi pelopor dalam transportasi hijau dengan mengandalkan energi terbarukan untuk seluruh kereta penumpangnya sejak 2017. Belanda juga berkomitmen memastikan bahwa semua bus baru menggunakan energi terbarukan mulai tahun 2025, dengan target bus bebas emisi penuh pada tahun 2030. Swedia juga mengambil langkah serupa dengan meningkatkan jumlah pengguna transportasi umum serta menerapkan bahan bakar berkelanjutan dan elektrifikasi. Sejak 2017, semua kereta dan bus di Stockholm telah beroperasi menggunakan 100% energi terbarukan. Sementara itu, Singapura terus berupaya mengurangi emisi dari jaringan transportasi publiknya dengan memperbanyak penggunaan bus dan kereta listrik. Pemerintah Singapura menargetkan penghapusan bus berbahan bakar diesel sepenuhnya pada 2040 dan telah mulai meluncurkan inisiatif bus listrik di berbagai rute. Langkah-langkah ini menunjukkan upaya berbagai kota menerapkan inovasi transportasi ramah lingkungan untuk menciptakan kota yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Mewujudkan kota berkelanjutan bukanlah tugas yang mudah, karena membutuhkan perubahan sistemik, multi sektor, multi aktor dan komitmen jangka panjang. Diperlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk mewujudkan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan. Tata kelola yang efektif harus didukung dengan kebijakan yang pro-lingkungan, investasi yang berkelanjutan, serta inovasi dalam teknologi transportasi. Selain itu, perubahan gaya hidup masyarakat dalam bermobilitas juga memegang peran penting, seperti mulai naik transportasi umum, berjalan kaki, atau bersepeda. Dengan kerja sama dan kesadaran kolektif, kita dapat mewujudkan kota yang lebih hijau, efisien, dan nyaman bagi semua.
Referensi: