Menjajaki Solusi Berbasis Alam untuk Mengatasi Cuaca Panas Perkotaan

Menjajaki Solusi Berbasis Alam untuk Mengatasi Cuaca Panas Perkotaan

Sejak April 2026, sebagian besar wilayah di Indonesia dilanda cuaca yang sangat panas. Dilansir oleh BMKG, pada periode 11–13 Mei 2026, suhu maksimum di atas 36,0°C hingga 37,1°C teramati di beberapa wilayah, seperti Sumatra Utara, Kalimantan Timur, dan Jawa Timur. Fenomena ini bahkan terasa efeknya hingga malam hari. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Menurut BMKG, kondisi cuaca di Indonesia saat ini sedang menunjukkan dinamika khas masa peralihan ke musim kemarau yang ditandai dengan aliran udara lebih kering dari arah Australia ke Indonesia (Monsun Australia). Suhu udara yang terasa lebih panas pada siang hari akibat kurangnya tutupan awan memicu kondisi langit cerah yang membuat pemanasan permukaan berlangsung lebih intensif. Diperkirakan pada paruh kedua tahun 2026, fenomena El Nino juga akan melanda Indonesia. 

Berdasarkan pemantauan layanan pemantauan dan informasi perubahan iklim milik Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service (2025), tahun 2024 merupakan tahun terpanas dalam catatan suhu global dengan suhu rata-rata sebesar 15,10°C. Ini lebih tinggi 1,60°C dibandingkan suhu rata-rata global pada masa  pra-industri (1850-1900). Padahal, Perjanjian Paris (Paris Agreement) yang ditetapkan pada tahun 2015 menyatakan komitmen global untuk menjaga kenaikan suhu permukaan bumi pada ambang batas 1,5°C. Namun, sejak 2024 pemanasan global telah melampaui ambang batas tersebut, menunjukan tren pemanasan global yang konsisten. Peningkatan gas rumah kaca utama yang signifikan, yaitu karbon dioksida, metana, dinitrogen oksida, dan sulfur heksa fluorida menyebabkan lebih banyak panas terperangkap di dalam atmosfer dan mendorong kenaikan suhu. Tidak menutup kemungkinan bahwa krisis iklim akan semakin besar.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menggambarkan krisis iklim sebagai ancaman pemanasan global dan perubahan iklim yang ditandai oleh empat karakteristik yaitu belum pernah terjadi sebelumnya, disebabkan oleh manusia (anthropogenic), ekstrem, dan tidak dapat diubah. Meskipun perubahan iklim bersifat global, namun dampaknya bersifat lokal, seperti banjir, kenaikan suhu, buruknya kualitas udara, hingga ancaman kenaikan permukaan laut di kota pesisir. 

Untuk menjawab tantangan ini, diperlukan perencanaan aksi iklim yang terintegrasi. Pendekatan ini memastikan bahwa isu iklim bukan ditempatkan secara terpisah, tetapi menjadi inti dari strategi pembangunan kota yang berkelanjutan. Pendekatan perencanaan aksi iklim terintegrasi penting dilakukan karena 70% gas rumah kaca dunia dihasilkan dari perkotaan, utamanya dari sektor energi, transportasi, konstruksi, dan konversi lahan. Perkotaan juga menghasilkan 3,8 miliar ton sampah yang dapat memperburuk gelombang panas dan kenaikan muka air laut yang dapat mengancam 10,4 juta penduduk Indonesia.

Bank Dunia (2022) menyatakan bahwa pengurangan dampak panas kota (urban heat) untuk melindungi populasi dari suhu ekstrem adalah salah satu strategi kunci ketahanan iklim dan mengatasi tantangan pembangunan perkotaan berkelanjutan. Alih-alih bergantung pada penyejuk udara (air conditioner), ada sejumlah solusi berbasis alam (nature-based solution) dan pemanfaatan desain rancang bangun yang dapat membantu mendinginkan suhu.

Singapura, misalnya, menerapkan kebijakan penghijauan kota yang cukup masif di atap bangunan dan gedung-gedung tinggi. Selain itu, ruang terbuka hijau seluas ratusan kilometer persegi, terdiri dari jalur pejalan kaki yang saling terhubung, taman-taman kecil di permukiman dan sky gardens, juga memudahkan akses penduduk pada kawasan hijau walaupun berada di lokasi yang kepadatannya cukup tinggi. Hasilnya, pada rentang waktu 1986-2007, terdapat peningkatan tutupan hijau dari 36% ke 47% walaupun pertumbuhan populasi meningkat secara masif sebesar 68% (Ministry of the Environment and Water Resources and Ministry of National Development, 2009). Sejumlah studi kemudian meneliti dampak kebijakan ini yang menghasilkan penurunan suhu kota pada kisaran 0,5-5°C. 

Kota Boston berhasil menurunkan tingkat karbon monoksida sebesar 12% pada periode 1995 hingga 2003 serta membangun lebih dari 45 taman dan alun-alun, sekaligus meningkatkan konektivitas antara pusat kota dengan kawasan sekitarnya. Keberhasilan ini terjadi melalui transformasi kebijakan Pemerintah Kota Boston untuk membongkar jalan layang yang padat menjadi sistem terowongan bawah tanah yang melintasi pusat Kota Boston. Bekas jalan layang kemudian direnovasi oleh Pemerintah Kota Boston menjadi taman-taman dan alun-alun yang dikenal dengan Rose Kennedy Greenway.
 
Foto: David L. Ryan (kiri), Kyle Klein (kanan)/www.rosekennedygreenway.org
Foto: Greenway Conservancy Archives/www.rosekennedygreenway.org
Foto: Greenway Conservation Archives (kiri), G. Ortiz (kanan)/www.rosekennedygreenway.org

Di sisi lain, pada tahun 2020-2021, Kota Guangzhou di Republik Rakyat Tiongkok, mengujicobakan penerapan sejumlah strategi pendinginan kota (urban cooling), seperti koridor ventilasi untuk meningkatkan aliran udara alami (sebagaimana ilustrasi di bawah), mendorong konektivitas ekologis melalui infrastruktur biru dan hijau, serta pemanfaatan struktur dan tatanan bangunan untuk meningkatkan area teduh, ventilasi alami, termasuk menggunakan material berdaya serap panas rendah. Selain itu, kota Guangzhou juga melakukan pemodelan untuk melihat dan memprediksi arah pergerakan angin, mencermati perbandingan ventilasi serta bayangan gedung, serta mengidentifikasi kawasan rawan panas. 
 
Koridor Ventilasi Kota Guangzhou
Sumber: Bank Dunia, 2022
 
Sebagai catatan, sepanjang sejarah, kota-kota telah beradaptasi dengan kondisi iklim lokal dengan cara yang khas. Oleh karena itu, pendekatan adaptasi iklim berbasis alam yang memanfaatkan gaya dan arsitektur tradisional juga penting untuk dieksplorasi. Teknik-teknik ini umumnya berbiaya rendah serta menunjukkan kearifan lokal dan praktik-praktik yang telah terbukti mampu meningkatkan kenyamanan dan ketahanan terhadap kondisi iklim setempat.

Danau Burley Griffin di kota Canberra semula didesain untuk kebutuhan estetika dan penyimpanan air di lokasi yang terletak di tengah kota dan dikelilingi taman-taman hijau. Namun demikian, fungsi danau kemudian berkembang lebih signifikan karena perannya dalam memoderasi iklim mikro kota dengan menyerap panas, mengurangi fluktuasi suhu ekstrem dan mendorong peningkatan kegiatan rekreasi. Hal ini menunjukkan bahwa selain berperan sebagai struktur dan pola ruang kota, kombinasi infrastruktur biru dan hijau seperti yang diterapkan di Canberra ternyata dapat membantu mengurangi efek perubahan iklim di kota, bahkan menjadi simbol penting kota yang memperoleh pengakuan internasional.

Untuk konteks Indonesia, pendekatan yang menggabungkan pekarangan hijau, pohon peneduh berkanopi besar, koridor vegetasi sepanjang jalan dan sungai, serta prinsip arsitektur tropis tradisional berpotensi memberikan dampak paling signifikan dalam mengurangi suhu perkotaan sekaligus mempertahankan identitas budaya lokal. Namun demikian, agar dapat dijalankan secara efektif, solusi-solusi teknis diatas tentu juga perlu didukung dari sisi perencanaan, perumusan kebijakan dan regulasi, maupun pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian dari perencanaan aksi iklim yang terintegrasi.

Perubahan iklim sudah hadir di depan pintu kota kita. Tanpa rencana iklim yang terintegrasi, kota akan semakin rapuh terhadap guncangan iklim yang semakin tidak terduga. Agar bisa menciptakan kota yang lebih tangguh, sehat, dan adil untuk kita dan generasi mendatang, upaya konsensus dari berbagai pihak menjadi sangat strategis.
 
 
Penulis: Ayu Aldila, Micania Camillang

Referensi: 
World Bank, 2022. Piloting Nature-Based Solutions for Urban Cooling: Overview. Washington, DC: World Bank. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 2026. Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 15–21 Mei 2026: Aktivitas MJO dan Sirkulasi Siklonik Tingkatkan Potensi Hujan di Tengah Masa Peralihan. Jakarta: BMKG. Tersedia pada: BMKG (diakses 19 Mei 2026).

Ministry of the Environment and Water Resources, & Ministry of National Development. (2009). A lively and liveable Singapore: Strategies for sustainable growth. Government of Singapore. https://www.nccs.gov.sg/files/docs/default-source/default-document-library/a-lively-and-liveable-sin...