Kota Semarang

Kota Semarang

Area
373 km²
 
Population
1.708 K
 
Kepadatan Penduduk
4.571 Jiwa/km²

Semarang, ibu kota Provinsi Jawa Tengah, adalah kota dengan populasi lebih dari 1,6 juta jiwa dan kepadatan penduduk 4.421/km². Sebagai pusat industri, kota ini mengandalkan sektor manufaktur dan konstruksi sebagai sektor unggulannya. Sekitar 44% lahannya didominasi oleh kawasan permukiman, diikuti oleh kawasan pertanian. Kota ini memiliki topografi yang beragam mulai dari 0 sampai 126 meter di atas permukaan laut dan juga berbagai bentuk ekosistem seperti pegunungan dan perbukitan, dataran, pesisir dan lautan. Semarang memiliki keanekaragaman hayati yang kaya, mencakup 10 spesies mamalia, 78 spesies burung, 86 spesies serangga 19 spesies ikan dan lainnya.      

 

Semarang menghadapi tantangan lingkungan yang signifikan, terutama polusi sungai karena limbah industri dan rumah tangga serta intrusi air laut yang dapat mengancam ketersediaan air bersih. Dari sisi keanekaragaman hayati, kota ini telah mengalami kepunahan tiga spesies global yang penting, menandakan perlunya langkah-langkah konservasi lebih lanjut. Semarang juga menghadapi risiko bencana seperti penurunan muka tanah, genangan air pasang, dan banjir bandang yang sering terjadi akibat kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. 

 

Kota Semarang dipilih sebagai kota pilot SCIP karena secara aktif mendorong penyelesaian permasalahan lingkungan terkait pembangunan perkotaan dan juga karena posisinya sebagai kota pilot National Urban Development Project (NUDP), Low Carbon Development Indonesia (LCDI), National Slum Upgrading Project (NUSP) dan Infrastructure Development for National Tourism Strategic Areas Project sehingga memungkinkan untuk memaksimalkan sinergi dan pemanfaatan sumber daya. Semarang juga merupakan anggota the Rockefeller Foundation’s 100 Resilient Cities Initiative, Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCRN) dan the Dutch RVO’s Water as Leverage (WaL) Initiative. Dari sisi kapasitas fiskal, kota ini secara aktif mengajukan pendanaan KPBU untuk berbagai proyek perkotaan dan hampir mencapai kemandirian fiskal dengan 55% pendapatannya berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).