Kota Balikpapan

Kota Balikpapan

Area
503 km²
 
Population
688.3 K
 
Kepadatan Penduduk
1.482 jiwa/km²

Balikpapan terletak di pesisir tenggara Pulau Kalimantan dengan luas wilayah 503 km² dan populasi 688.318 jiwa, berada di antara hutan hujan dataran rendah dan kawasan mangrove, serta memiliki dua kilang minyak sekaligus menjadi pintu gerbang wisata alam. Sebagai pusat pengolahan industri kehutanan, minyak bumi, kertas, pupuk, dan kelapa sawit, kota ini menghadapi masalah penebangan liar, di mana sektor industri menyumbang lebih dari separuh PDRB-nya dengan kapasitas fiskal yang sangat tinggi.

 

Balikpapan terletak di pesisir tenggara Pulau Kalimantan dengan luas wilayah 503 km² dan populasi 688.318 jiwa, berada di antara hutan hujan dataran rendah dan kawasan mangrove, serta memiliki dua kilang minyak sekaligus menjadi pintu gerbang wisata alam. Sebagai pusat pengolahan industri kehutanan, minyak bumi, kertas, pupuk, dan kelapa sawit, kota ini menghadapi masalah penebangan liar, di mana sektor industri menyumbang lebih dari separuh PDRB-nya dengan kapasitas fiskal yang sangat tinggi.

 

Balikpapan, salah satu kota strategis di Kalimantan Timur yang terhubung dengan Ibu Kota Negara (IKN) dan Samarinda, memiliki populasi 688.318 jiwa dengan kepadatan penduduk 1.368/km². Kota ini terletak diantara dataran rendah hutan hujan primer dan daerah pesisir hutan bakau serta masih didominasi kawasan lindung, terutama hutan seluas 142 km², yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekologis. Lebih dari separuh PDRB Kota Balikpapan dikontribusikan oleh sektor industri pengolahan untuk hasil-hasil kehutanan, perkebunan dan pertambangan. Keanekaragaman hayati Balikpapan didominasi oleh vegetasi, mencakup 207 spesies pohon hutan hujan tropis, 21 spesies terumbu karang, dan juga 158 spesies fauna dilindungi.

 

Balikpapan menghadapi tantangan lingkungan, seperti polusi sungai karena limbah industri dan rumah tangga, sedimentasi, erosi, serta kerusakan ekosistem mangrove yang berfungsi sebagai benteng alami terhadap abrasi dan perubahan iklim. Keanekaragaman hayati juga terancam dan perlu perhatian karena terdapat 61 spesies flora dan 158 spesies fauna yang dilindungi di sekitar wilayah ini. Risiko bencana seperti banjir, longsor, kebakaran hutan dan kabut asap perlu turut menjadi perhatian dalam perencanaan kota.

 

Seperti halnya Semarang, Kota Balikpapan dipilih sebagai kota pilot SCIP karena secara aktif mendorong penyelesaian permasalahan lingkungan terkait pembangunan perkotaan dan juga karena posisinya sebagai kota pilot National Urban Development Project (NUDP), Low Carbon Development Indonesia (LCDI) sehingga memungkinkan untuk memaksimalkan sinergi dan pemanfaatan sumber daya.